Investasi Emas, Investasi Paling Aman dan Menguntungkan

RESESI EKONOMI DAN LIQUIDITAS TRAP

Stimulus fiskal Yang Tidak Terkendali Punya Dampak Negatif Bagi Ekonomi Dalam Jangka Panjang

( Written by Priyo Pujiwasono, Pengamat Ekonomi & Politik di Washington )

Akhir-akhir ini, muncul berbagai optimisme baik dari para pengamat maupun pejabat pemerintahan Obama, bahwa resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) akan segera berakhir, terbukti dari melambatnya laju kontraksi PDB triwulan kedua 2009 yang lebih rendah dari perkiraan (yaitu ‘hanya' negatif 1 persen). Di sisi lain, sektor riil ekonomi AS masih babak-belur, karena angka pengangguran masih akan berada di kisaran 8-10 persen sampai 2-3 tahun ke depan. Ini berarti ada 12-15 juta tenaga kerja yang tak mampu terserap oleh sektor swasta yang terpukul akibat anjloknya tingkat konsumsi publik, karena dipicu krisis sektor perumahan.

Dalam ekonomi, dikenal dua strategi pokok untuk menggenjot kembali perekonomian yang terpuruk. Strategi pertama disebut strategi monetaris (diprakarsai Milton Friedman), yaitu fokus kebijakan ekonomi melalui perangkat moneter (utamanya melalui kontrol likuiditas oleh bank sentral). Sementara, strategi kedua adalah melalui kebijakan fiskal yaitu lewat belanja pemerintah atau stimulus anggaran, yang dipercaya oleh kelompok Keynesian (diprakarsai John Maynard Keynes). Meski fokus kedua strategi berbeda dalam kebijakan praktis, namun penerapannya tak harus berseberangan (mutually exclusive), dan bisa dijalankan secara bersama seperti yang ditempuh pemerintah AS saat ini.

Jebakan Likuiditas

Meski ada nada optimis, namun masih ada hal mengkawatirkan dalam upaya pemulihan ekonomi AS, yaitu fakta bahwa perangkat kebijakan moneter yang diambil sudah sampai pada tahap maksimal. Federal Reserve (bank sentral AS) sudah memangkas suku bunga pinjaman antar bank berkali-kali, bahkan sudah mencapai tingkat terendah (0 persen) sejak Desember 2008. Ben Bernanke, ketua Federal Reserve juga menyatakan akan mempertahankan sukubunga rendah ini sampai aktivitas ekonomi kembali normal.

Anehnya, kebijakan sukubunga nol persen yang ditujukan untuk menstimulus aktivitas ekonomi AS, terbukti belum menunjukkan indikator positif membaiknya sektor riil. Tingkat pengangguran tetap tinggi, bahkan sektor swasta masih terus melakukan PHK. Kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menjadi ‘jebakan likuiditas' (liquidity trap), yaitu kondisi dimana kebijakan moneter dengan mematok tingkat suku bunga nol persen untuk memperbesar likuiditas (uang beredar) tetap tidak mampu menstimulus ekonomi dan menyerap tenaga kerja.

Ini bisa terjadi, karena likuiditas tersebut ‘macet' di bank-bank komersial dan tidak mengalir ke sektor riil. Meskipun likuiditas mudah diperoleh, bank-bank komersial AS bahkan makin memperketat persyaratan pinjaman bagi sektor usaha yang masih rawan risiko merugi. Salah satu penyebab utamanya adalah ketakutan terulangnya krisis KPR berisiko tinggi (subprime mortgage) yang telah memporak-porandakan institusi keuangan AS sejak dua tahun lalu. Jebakan likuiditas semacam ini pernah dialami oleh Jepang saat krisis perbankan tahun 1990-an, dimana kebijakan bank sentral Jepang untuk menggenjot likuiditas gagal menggerakkan roda perekonomian yang tetap macet, bahkan memperparah resesi yang menjadi berlarut-larut.

Stimulus Anggaran

Dalam kondisi kemacetan likuiditas, hanya satu solusi yang mungkin dilakukan untuk menstimulus ekonomi, yaitu dengan intervensi pemerintah lewat stimulus fiskal. Bila strategi kaum monetaris lebih terfokus pada keyakinan bahwa sisi penawaran akan mendorong permintaan (‘supply creates its own demand'), maka kelompok Keynesian lebih menekankan kebijakan melalui sisi permintaan (aggregate demand). Pendukung Keynesian yakin bahwa pemerintah dan bukan pasar, yang berperan besar dalam menstimulus ekonomi melalui belanja pemerintah. Krisis finansial global yang terjadi akibatnya ambruknya ‘pasar' finansial, diyakini telah merevitalisasi pemikiran J.M. Keynes, yang pernah menyelamatkan dunia dari depresi ekonomi tahun 1930-an.

Sejak Obama dipastikan memenangkan pilpres November tahun lalu, tim ekonomi Obama serta-merta menyiapkan paket stimulus anggaran sebesar 787 miliar dolar AS. Padahal di tahun 2008, pemerintahan Bush juga sudah meluncurkan paket stimulus berupa pemotongan pajak dan dana talangan bagi bank-bank bermasalah (TARP=Troubled Assets Relief Program) yang jumlahnya juga sangat besar.

Dalam jangka pendek, stimulus fiskal ini memang mampu menggerakkan perekonomian sehingga resesi tak menjadi semakin parah. Namun, ini akan menyebabkan defisit anggaran pemerintah AS terus membengkak, bahkan total utang pemerintah akhir tahun 2009 diperkirakan bisa mencapai 12,8 triliun dollar AS atau mencapai 90 persen dari PDB Amerika. Stimulus fiskal (yang otomatis memperbesar utang pemerintah) ini adalah pilihan buruk yang tak dapat dihindarkan, dan dalam jangka panjang akan menjadi masalah yang tidak ringan, karena akan menyulut kenaikan pajak bagi warga Amerika dan akibatnya menekan investasi di sektor riil.

Tak pelak, baik Menteri Keuangan Tim Geithner maupun Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Larry Summers sudah mengatakan bahwa pemerintahan Obama kemungkinan akan menaikkan pajak bagi kelas menengah untuk menutup defisit ini. Ini berarti, apapun yang pernah dijanjikan Obama dalam kampanyenya tahun lalu bahwa pemerintahnya tak akan menaikkan pajak bagi warga kelas menengah AS, tampaknya hanya akan menjadi janji-janji kampanye semata.

 

Anda ingin berinvestasi emas dengan modal hanya 1/3 dari harga emas? Belilah E-book pedoman berinvestasi dibawah ini.

KebunEmas.com

©2006 ayo-investasi.com